Bertemu Tuhan

Saudaraku, Ini mungkin bukan kisah baru, tapi saya hanya ingin coba berbagi semoga ada hikmahnya bagi kita semua. sebuah Kisah nyata dari seorang bapak yg bernama Wijaya.

Pak Wijaya adalah seorang pensiunan, seorang pejabat, kaya raya, yang memiliki usaha dengan hasil yang luar biasa. Pak Wijaya dengan kehidupan mewah tentunya tidak pernah kekurangan dari segi hal materi. Segala hal bisa dipenuhinya dengan mudah.

Setelah pensiun pak Wijaya tidak lagi banyak melakukan kegiatan, urusan perusahaan sudah diwakili oleh anak-anak dan menantunya. Waktu kosong yang banyak membuat pak Wijaya sering berfikir tentang kehidupan yang telah dilaluinya, hidup mewah, dengan berbagai macam fasilitas yang berlimpah,

semasa masih menjabat pak Wijaya termasuk orang yang baik, beliau rajin sholat, rajin sedekah, rajin ikut pengajian, sudah beberapa kali naik haji dan umroh. Tiap hari raya idul adha pak Wijaya selalu ikut qurban, namun dia merasa masih ada yang kurang dalam dirinya. Dia selalu berfikir apa yang kurang lagi, mengapa hatinya belum merasa tenang, ya ketenangan yang belum dia dapatkan, walau semua cukup, tapi pak Wijaya masih belum menemukan ketenangan dalam dirinya.

Suatu hari pak Wijaya jalan-jalan sore di jalan depan rumahnya, hari itu dia berangkat agak cepat dari biasanya. Pak Wijaya melewati warung pak Darmo. Pak Darmo biasanya selalu memberi salam jika pak Wijaya lewat, walaupun pak Wijaya belum sekalipun mampir di warungnya. Hari itu pak Wijaya tidak mendengar salam dari pak Darmo. Sedikit penasaran pak Wijaya mengamati warung pak Darmo, ternyata warungnya tutup.

Selang beberapa menit terdengar salam, "Assalamu'alaikum pak Wijaya". Wa'alaikum salam jawab pak Wijaya. Ternyata pak Darmo telah berada dibelakang pak Wijaya bersama dengan dua orang anak dan isterinya yang berboncengan dengan sepeda motor yang sangat jelas kelihatan bututnya.

Wajah pak Darmo kelihatan bahagia, begitu juga dengan anak-anak dan istrinya. Mereka selalu tersenyum ramah. Hal ini sangat menarik perhatian pak Wijaya. "Boleh saya duduk disini?", tanya pak wijaya sambil menunjuk sebuah bangku kayu disamping warung pak Darmo.

"Silahkan pak, tapi maaf saya mau buka warung dulu", jawab pak Darmo.

"Oh ya, ngak apa apa". Pak Wijaya duduk sambil merperhatikan pak Darmo dan keluarganya, dia melihat sebuah keluarga yang sangat bahagia,

anak-anak pak Darmo kelihatan gembira sekali, mereka selalu bercanda dan tertawa lepas, tidak nampak sedikitpun beban dalam diri mereka. Hal yang tidak pernah dirasakan oleh pak Wijaya dalam keluarganya.

Pak Darmo selesai membuka dan menata warungnya, dia kemudian duduk dekat pak Wijaya. "Gimana kabarnya pak?" tanya pak Darmo.

"Baik". Pak Wijaya diam sejenak kemudian "Maaf, pak Darmo bolehkah saya bertanya sesuatu, tetapi sebelumnya saya mau bercerita dulu".

"Silahkan pak" jawab pak Darmo sambil tersenyum.

" Begini, pak Darmo mungkin sudah kenal siapa saya, saya orang yang hidup berkecukupan, kalau dilihat orang tentu saya adalah orang yang hidup sangat bahagia, dengan harta yang melimpah. Tapi pak, saya belum merasakan ketenangan dihati saya, saya selalu gelisah, sudah banyak ustadz yang saya kunjungi untuk minta nasehat dan petunjuk, tidak hanya didalam negeri tapi juga sampai keluar negeri. Seperti istilah orang saya pergi mencari tuhan kemana saja, sudah tak terhitung uang yang saya keluarkan untuk itu, namun saya tak menemukan apa yang saya cari. Saya tidak menemukan tuhan itu. Hari ini saya melihat, keluarga pak Darmo begitu bahagia, penuh canda tawa dan senyum yang selalu terpancar diwajah mereka. Kalau boleh saya bertanya, mengapa bapak bisa sedemikian bahagia sedangkan kehidupan bapak jauh dari cukup?"

Pak Darmo tersenyum, seraya perlahan menjawab "Karena saya telah bertemu dengan Tuhan",

tapi maaf bapak jangan salah paham dulu dengan apa yang saya katakan, kalau bapak mau, saya akan bawa bapak menemui seseorang, biar bapak dapat penjelasan apa itu yang dimaksud dengan "bertemu tuhan" karena saya tidak bisa menerangkanya, takut bapak salah paham, karena ini adalah masalah rohaniah, yang paham tentunya guru rohani pula.

"Boleh, saya mau" jawab pak Wijaya setuju.

Kemudian mereka sepakat untuk pergi 3 hari lagi.

Pak Darmo membawa pak Wijaya ke sebuah majelis zikir, Majelis Al-Kautsar. Disana pak Wijaya dikenalkan pada pimpinan Yayasan.

Pak Wijaya menyampaikan semua keluhannya. Pimpinan Yayasan tersenyum, kemudian berkata "Mengapa bapak harus bersusah payah mencari tuhan jauh jauh dengan biaya yang begitu banyak, sementara tuhan itu ada dalam diri bapak sendiri.

Pak Wijaya terkejut bercampur heran dengan apa yang disampaikan oleh pimpinan Yayasan. "Apa yang dimaksud dengan tuhan itu ada dalam diri sendiri itu ya pak?", tanya pak Wijaya.

Kemudian dijawab oleh pimpinan yayasan, "Ya, bapak bisa menemukan tuhan itu dalam diri bapak sendiri, ketenangan hanya bisa didapatkan jika kita dekat dengan Allah. Dan kedekatan dengan Allah itu akan terbentuk jika kita telah membersihkan diri dari segala dosa dosa kita, dengan cara bertobat, beribadah, dan beramal.

Untuk melakukan hal demikian tentu kita perlu guru pembimbing rohani, Allah itu gaib, tidak bisa dilihat dengan mata lahir, untuk bertemu Allah, tentu tidak bisa dilakukan secara lahir tapi dengan rohani, yaitu dengan menggunakan qolbu/hati.

Qolbu/hati perlu pembersihan, kita tidak akan berarti apa apa tanpa pondasi yang kuat di atas syahadat, Belum sempurna jika kita hanya mengucapkan laa ilaaha illalla pada lisan, tetapi berdusta karena didalam hati masih bersemayam banyak tuhan selain daripada ALLAH yang masih menakuti.

Kita masih takut pada pemimpin yang berkuasa, kita masih bergantung kepada pekerjaan, harta, keuntungan, kekuatan, pendengaran, mata dan otot, itu semua masih menjadi tuhan, masih banyak hati manusia yang masih pasrah dan bergantung pada semua itu, padahal mereka mengaku tawakal kepada Allah Swt, sehingga dzikir mereka menjadi kebiasaan yang nampak lisan, sedangkan hatinya tidak.

Seharusnya ketika kita mengucapkan Laa ilaaha, kita me-nafi-kan (membuang) segala bentuk tuhan selain daripada Allah dan ketika mengucapkan illallah kita menetapkan itu sebagai bentuk istbat kulli (penerapan yang menyeluruh).

Kapan saja hati kita bersandar kepada selain Dia, maka kita telah berdusta atas pengakuan yang telah kita ucapkan. Dan yang menjadi tuhan adalah apa yang kita jadikan sandaran.

Bagian lahir tidak lagi dilihat, sebab hatilah yang beriman, di hati yang melakukannya ikhlas, dia yang bertaqwa, zuhud, yakin, dan sekaligus melaksanakan.

Hati adalah komandan, sedangkan anggota yang lain adalah pasukan, Dalam mengucapkan Laa ilaaha illallah, mulailah dari hati, kemudian dengan lisan.Tawaqal lah sepenuhnya kepada Allah Swt, sibukkan lahir dengan hukum syari'at, dan sibukkan hati bersama dengan Al-Haq Azza wa Jalla,

Lupakanlah kebaikan dan keburukkan yang nampak pada lahiriah, sibukkan bathin bersama Dia yang menciptakan kebaikan dan keburukan.

Sekarang saya tanya pada bapak, "Sudah pernahkah bapak Wijaya membuang segala macam bentuk tuhan dari dalam diri bapak, hingga bapak bisa menemukan tuhan yang sesungguhnya dalam diri bapak?"

Pak Wijaya tertegun, inilah yang selama ini menggerogoti dirinya, dia sadar selama ini banyak tuhan dalam hatinya, ketergantungannya pada yang lahiriah sangat luar biasa, sekarang dia sadar, timbul rasa takut dalam dirinya, rasa malu, dan semakin menyesal atas keburukan yang pernah dilakukannnya.

Jika bapak telah siap untuk berubah kepada kebaikan yang lebih sempurna, untuk memperoleh derajat "Tenang" secara rohaniah, saya akan bawa pak wijaya kepada pembimbing rohani dimajelis Al-Kautsar ini.

Karena keinginan yang sudah kuat pak Wijaya menyatakan kesediaannya. pimpinan Yayasan datang menemui saya dan minta izin untuk menghadap bersama pak Wijaya.

Saya kemudian memberikan arahan pak Wijaya,

"ada pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada bapak, dan pertanyaan tersebut tidak perlu bapak jawab, cukup untuk bapak renungkan"

Pernahkah Rohani anda Sholat dan mengenal siapa Tuhannya....? lalu bagaimana sholat anda selama ini "apakah hanya sholat secara jasmani saja, yang bisanya hanya mulut, lidah dan gerakan tubuh saja...?" Ingat, suatu saat nanti semua manusia pasti akan merasakan mati, ketika mati, "ROHANI" AKAN kembali kepada ALLAH, sementara jasmani, jasad atau tubuh akan kembali kedalam tanah dan hancur dimakan ulat dan cacing.

dan satu hal lagi "apakah tuhan yang ada didunia ini sama dengan tuhan diakhirat nanti...?" bila rohani anda tidak mengenal tuhan didunia, bagaimana nanti dia akan menemui Tuhan diakhirat....

Pak wijaya tertegun diam, Pak Wijaya saya sarankan untuk berzikir dengan metoda atau cara berzikir yang melibatkan Hati/qolbu.

Dengan tenang pak Wijaya menjalankan apa yang saya sarankan. Setelah selesai zikir +/- 15 menit,

"Bagaimana rasanya pak?", tanya saya.

Pak Wijaya tersenyum puas, "sungguh luar biasa yang saya rasakan, rasanya hati saya begitu tenang, seperti baru saja melepaskan beban yang sangat berat".

"Nah, mulai saat ini hilangkanlah berbagai macam tuhan dalam diri bapak, agar ketenangan dan tuhan sebenarnya bisa bapak temukan.

Sejak saat itu pak Wijaya selalu rajin datang ke majelis Al-Kautsar, dia terlihat sangat senang dan bahagia sekali.

Semoga kita menjadi manusia yang bernilai dihadapan ALLAH