Dimana Allah

Dimana ALLAH...? Pertanyaan itu yang harus kita jawab terlebih dahulu sebelum kita bertanya bagaimana cara melihat Allah.  Hampir disemua web/blog beraliran syariat memberikan jawaban bahwa Allah itu ada di Arasy,

Arasy itu berada dilangit dan harus diingat pula pengertian langit ini bisa terjadi multitafsir lagi, apa langit yang dimaksud itu yang sering kita lihat diatas kita berwarna biru kalau cerah, kemudian berubah berwarna kelabu kalau mendung dan menjadi gelap kalau sudah malam. 

Kaum sufi tidak mengartikan langit itu dalam pengertian zahir seperti yang kita lihat, akan tetapi lebih kepada pengertian ruhani, sebagai kiasan maqam yang harus dilewati sebagai 7 titik yang harus dibersihkan lewat zikir secara Istiqamah.

Dalam dalil lain disebutkan bahwa Allah itu ada dimana-mana, lalu bagaimana hubungan Allah yang berada di arasy dengan keberadaannya dimana-mana..?
Bagaimana Dia yang lebih dekat dari urat leher..?

Untuk menjawab semua pertanyaan itu kita mulai dari dalil yang menyatakan rumah Tuhan adalah Qalbu (hati) orang mukmin sebagaimana Allah berfirman dalam hadist Qudsi:

“Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”

Kalau ingin anda mencari Allah jangan cari di gunung, di laut, di mesjid atau ditempat-tempat lain, sudah pasti anda tidak akan menemukan Allah disana. Carilah dalam hati orang mukmin, disanalah Rumah Allah yang sesungguhnya.

Kalau dalam hati anda telah bersemayam Allah, telah berdialog dengan Allah dan telah Nyata Allah dalam kehidupan anda maka dimanapun anda berada maka disitu anda akan menemukan Dia karena sesunguhnya Allah itu ada dimana-mana.

Kemudian anda bertanya, saya kan punya hati kerena semua manusia diciptakan Allah memiliki hati kenapa saya tidak melihat Allah..?

Kalau itu persoalannya saya akan tanyakan satu hal kepada anda. Dirumah anda kan punya TV, kalau TV tidak dihidupkan apakah anda bisa menonton acara TV..? Menyaksikan  pidato presiden indonesia secara langsung,
melihat wajah Presiden..? Apakah semua bisa anda lakukan kalau TV ada mati..?
Jawabnya TIDAK....

Sama dengan hati anda, kalau anda tidak bisa melihat Allah berarti hati anda mati.
Kalau menghidupkan TV memakai energi listrik lalu menghidupkan hati pakai apa...? Menghidupkan hati harus
menggunakan Nur Allah melalui zikir dengan memakai metode yang tepat dan dibawah bimbingan seorang yang Ahli.


Pengertian Allah lebih dekat dari urat leher karena tempat bersemayam Allah itu berada didalam hati orang mukmin, sangat dalam dan sangat dekat. Lewat hatilah kita bisa berhubungan terus menerus dengan Dia yang berada di Arasy.

Logikanya suatu saat jika presiden indonesia sebagai pemimpin tunggal Indonesia dan tidak satupun yang menyerupai pangkatnya di Negara kita ini berpidato di TV, maka akan ada jutaan presiden disaksikan oleh masyarakat Indonesia lewat TV bahkan bisa milyaran ditonton oleh masyarakat seluruh dunia, apakah presiden indonesia itu jutaan jumlah nya..? Tentu tidak, Beliau itu satu tetapi berada dimana-mana, berada di dalam TV yang dihidupkan.

Dan pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa melihat Allah..?

Dalam sebuah hadist Nabi bersabda, “Matilah dirimu sebelum kamu mati”.
Dan seorang sufi bernama Abu Mu’jam mengatakan: “Barangsiapa yang tidak
merasa mati, niscaya dia tidak dapat melihat/bermusyahadah kepada Al-Haq”

Kunci seseorang bisa berjumpa dan melihat Allah adalah setelah merasakan mati. Tentu mati yang dimaksud disini bukan nafas berhenti, kalau hal ini terjadi maka para nabi dan para wali tidak akan pernah berjumpa dengan Tuhan di dunia.

Mati yang dimaksud disini adalah kematian rasa kemanusian kita setelah tenggelam dalam zikir, setelah mengalami 4 tahap mati yaitu : Mati Tabi’I (Zikir Qalbi),
Mati Ma’nawi (Zikir Lathifatul Ruh),
Mati Suri (Zikir Lathifatus Sirri),
dan Mati Hissi (Zikir Lathifatul Kullu Jasad).