Hukum adzan Di telinga bayi yang baru lahir

Ada pertanyaan dari jamaah Majelis tentang hukum Adzan di telinga bayi yang baru lahir, berkaitan dengan ‘INGATLAH KETIKA ENGKAU MATI’ 

Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzankan, namun tanpa disholatkan. di adzankan saat dilahirkan adakah haditsnya...?

Saudaraku yang dirahmati Allah....

Berkaitan dengan masalah adzan di telinga bayi yang baru lahir, ada dalilnya dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi para ulama hadits berselisih pendapat tentang derajat hadits tersebut.

Ada diantara ulama yang menilai derajatnya Dho’if, seperti syaikh Al-Albani dan syaikh Ibnu Utsaimin. Dan ada pula yang menilai derajatnya HASAN (Hasan Lighorihi), seperti imam At-Tirmidzi dan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah.

Bagi siapa yang memandang haditsnya Dho’if, maka janganlah ia mengamalkannya.
Dan bagi siapa yang menilai derajat haditsnya Hasan, karena mengikuti para ulama hadits yang meng-Hasan-kannya, maka ia boleh mengamalkannya.
Dan bagi yang mengumandangkan adzan pada telinga bayi yang baru lahir, maka ia tidak diingkari dan jangan pula dicela.

Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini, namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik, karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.

Hadits tentang masalah ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab dan beliau adalah perawi yang memiliki kelemahan, namun terdapat sejumlah riwayat yang menguatkannya, Ketika Nabi memberi nama untuk anaknya Ibrahim, tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa beradzan di telinga kanan Ibrahim dan mengumandangkan iqomah di telinga kirinya.

Demikian pula bayi-bayi dari kalangan Anshor yang dibawa ke hadapan Nabi untuk ditahnik dan diberi nama, tidak dijumpai riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengumandangkan adzan dan iqomah pada telinga bayi tersebut.

Akan tetapi jika ada yang melakukannya menimbang hadits-hadits yang telah disebutkan, maka tidak mengapa karena riwayat-riwayat yang ada sebahagiannya menguatkan sebahagian yang lain (sehingga berstatus HASAN lighairihi).

Kesimpulannya ada kelonggaran dalam masalah ini. Jika ada yang mengamalkannya, maka itu baik, mengingat hadits-hadits dalam masalah ini sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Tidak melakukannya juga tidak mengapa. dan yang paling penting bagi yang melakukannya adalah dengan bertujuan untuk Mengenalkan Asma ALLAH bagi awal kehidupan anak-anak kita serta awal dari pengenalan agama bagi mereka yang merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua.