Kisah seorang sopir bernama karyo

Sedekah dapat berarti pemberian dari seorang Muslim kepada orang lain secara ikhlas, tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Dalam Alquran Allah SWT menjelaskan balasan yang diberikan kepada hambanya yang senantiasa berbuat kebaikan termasuk sedekah.

"Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat. Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kejahatan, maka tiadalah ia dibalasi, melainkan dengan seumpamanya sedang mereka itu tiada teraniaya," surrah Al-An'am ayat 160.

Banyak kisah nyata yang dapat kita teladani, sebagai penyemangat untuk melakukan sedekah. Seperti kisah seorang sopir yang selalu mengeluh dan merasa pendapatannya selalu kurang, tidak sebanding dengan pengeluarannya.

Setelah bekerja cukup lama sebagai sopir bos perusahaan swasta Karyo, selalu mengeluh dengan pendapatan bulanannya. Menurutnya dengan gaji Rp 800 ribu per bulan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lima anak-anaknya yang masih kecil.

Karyo selalu menyambut pagi hari dengan malas, dia hanya semangat jika waktu gajiannya tiba. Menurutnya memikul beban lima anak bukan perkara mudah, selain biaya sekolah, Karyo juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan sekunder anak-anaknya. Seperti pakaian, peralatan sekolah, hingga uang jajan.

Hal ini belum termasuk urusan 'mengepulkan asap' dapur.

Dalam setahun, Karyo bisa menghitung berapa kali keluarganya makan daging kambing atau sapi. Untuk Karyo yang penting keluarganya tidak kelaparan dan tidak mengemis di jalanan. Urusan makan enak nanti saja.

Karena inilah Karyo selalu mengeluhkan gajinya. Meski demikian nyatanya Karyo tidak berani mengadu ke bosnya. Dia menyadari pekerjaan sopir yang dilakoninya terlebih ijazah yang tidak mumpuni. Dia selalu mengurungkan niatnya jika harus membicarakan gaji, takut malah kena PHK.

Hingga akhirnya Karyo memberanikan diri mengadukan nasibnya kepada salah satu ustadz Awalnya Karyo mengenal ustadz itu pada suatu pagi ketika dia melihat sang ustadz berceramah. Sang ustadz selalu berceramah akan pentingnya dan manfaat bersedekah.

Saat bertemu dengan ustadz, tanpa banyak basa-basi Karyo langsung menceritakan permasalahannya. "Ustadz, gaji saya cuma Rp 800 ribu per bulan, padahal anak saya lima. Saya ingin naik gaji menjadi Rp 1,5 juta," kata Karyo memberanikan diri.

Mendengar keluhan Karyo, sang ustadz hanya tersenyum sambil mengajak Karyo untuk bersyukur terhadap semua yang telah Allah SWT berikan kepadanya selama ini.

Disela obrolan itu ustadz menyarankan Karyo untuk membuka Alquran surrah Al-An'am ayat 160 dan Ath-Thalaaq ayat 7, keduanya merupakan surrah anjuran melakukan sedekah.

Mendapati perintah dari sang ustadz, buru-buru Karyo menutup Alquran langsung memotong percakapan sambil berkata "Kapan ayat-ayat itu dibaca dan berapa kali ustaz?"

Mendengar jawaban Karyo, ustadz sedikit kesal. Niatnya memberikan solusi yang benar, ditanggapi Karyo sebagai mekanisme ritual untuk mendapatkan kekayaan.

Segera ustadz meminta Karyo untuk mengeluarkan dompetnya. Meski dompetnya terdapat banyak lipatan untuk menyimpan uang dan kartu-kartu, dompet Karyo sangat tipis, hal ini karena tidak adanya kartu ATM atau kredit yang dimilikinya. Hanya uang sejumlah Rp 100 ribu yang terlipat.

Sambil mengambil uang lipatan Rp 100 ribu, ustadz bertanya "Ikhlas tidak kamu, jika uang ini saya sedekahkan?" "Ikhlas" jawab Karyo sambil menganggukkan kepalanya. Namun, karena jumlahnya cukup besar pada anggukan ke sekian kalinya, telihat Karyo nampak ragu.

Melihat keraguan Karyo, ustadz berkata, "Dalam tujuh hari masa kerja, akan ada balasan dari Allah SWT, jika tidak uangnya saya kembalikan."

Mulailah sejak saat itu Karyo rajin menghitung hari dan bersemangat menjalani pekerjaannya. Pada hari pertama, tidak ada keajaiban yang menghampirinya, begitu juga hari kedua. Bahkan pada hari ke tiga, Karyo mengaku uangnya sebesar Rp 25 ribu hilang.

Melihat tidak ada perubahan, Karyo mendatangi sang ustadz lagi sambil menagih janji dan menceritakan kehilangan uangnya. Ustadz hanya tersenyum dan menceritakan kalau uang yang diambilnya dari dompet Karyo, ternyata berjumlah Rp 125 ribu. Karena kondisi uang yang terlipat, sehingga tidak mengetahui jika yang Rp 25 ribu juga keikut.

Pada hari keempat, Karyo mengantarkan bosnya pergi ke Jawa Tengah selama empat hari. Sambil harap-harap cemas, Karyo mengantarkan majikannya itu sampai kembali lagi ke Jakarta.

Setelah kewajibannya terselesakan, Karyo pamit kepada bosnya untuk pulang. Saat itulah si bos memberikan sebuah amplop coklat kepada Karyo. "Ini hadiah untuk istri kamu yang kesepian di rumah," kata si bos.

Sesampainya di rumah, Karyo membuka amplop itu. Dilihatnya tumpukan uang ratusan sejumlah Rp 1,5 juta. Seketika Karyo menyadari kebenaran surrah Al-An'am ayat 160.

Setelah kejadian itu, Karyo lebih sering bersedekah tanpa lagi mempermasalahkan besaran gajinya.