POLIGAMI Sunnah atau Nafsu

Saudaraku para SUAMI...

Jika anda mempertanyakan kesholehan wanita untuk menerima di poligami, maka saya ajukan 3 pertanyaan, jangan kesholehan itu hanya untuk satu pihak saja.

Pertama: mampukah kamu menikahi wanita renta/lanjut usia yang hidup sebatang kara tanpa penopang biaya..?

Kedua: mampukan kamu menerima wanita yang dikatakan tidak cantik wajahnya buruk rupa tetapi dia seorang ahli ibadah..?

Ketiga: mampukah kamu menerima setiap keturunanmu (anak-anak perempuanmu) di perlakukan sama seperti istrimu..?

Jika satu persatu di buktikan ada kemungkinan istri ke empat akan dipilihkan yang cantik jelita bukan hanya paras tetapi akhlak dan yang sudah lanjut usianya, karena itu adalah hadiah kesholehan di dunia. Sedangkan di akhirat bidadari tengah menunggumu.

Sholeh bukan kata-kata tapi Fakta. Hidup itu tempat ujian keimanan, hal di atas saja masih mikir-mikir berarti ada sisi kemanusiaan atau naluri yang tidak dapat dipatahkan oleh iman. Iman harus mampu mematahkan segalanya meski hal yang tidak di inginkan menjadi jalannya ujian.



"Kenapa kamu tertarik dengan kemesraan aku? Poligami itukan sunnah! Punya istri satu tapi selingkuh buat apa?" ujarnya berapi-api.
Itu adalah kutipan dari kalimat seseorang, yang sekarang sudah mulai coba-coba buat jadi seorang ustadz, Memberi ceramah dan khotbah dengan berpenampilan yang “katanya” Islami.

Yang jadi pertanyaan besar sekarang, melihat fenomena yang terjadi dikalangan ustadz adalah: “Apakah karena seseorang itu telah menjadi ustadz makanya telah memenuhi syarat untuk berpoligami?”, ataukah “syarat jadi seorang ustadz itu, harus melakukan poligami?” Alangkah indahnya dunia islam ini jika para laki-lakinya menjalankan semua sunnah Rasullullah, tapi akan sungguh menyedihkan dunia islam ini jika laki-laki menjadikan sunnah untuk “melindungi nafsunya” untuk menikah lagi.

Sangat berat syarat untuk bisa berpoligami. ADIL kata yang sederhana, tapi apakah maknanya sesederhana itu juga?. Apa iya ada sekarang ini manusia yang punya sifat adil dimana sebagai salah satu syarat utama dalam berpoligami, sementara manusia tidak ada dan tidak akan pernah bisa berlaku adil kecuali kekasih Allah yakni Rasulullah SAW. Tidakkah manusia-manusia yang melakukan poligami sekarang ini yang berlindung dibalik kata-kata sunnah adalah manusia yang “Sombong”, yang merasa dirinya mampu berbuat adil.

Jika kata “Adil” diartikan bagi rata mungkin bisa saja itu diwujudkan dengan mudah, karena bisa dihitung, ditimbang atau diukur dengan mudah, bagaimana adil dalam perasaan yang akan dirasakan oleh seorang wanita yang dimadu?. Pada saat cinta telah terbagi, kasih dan sayang tidak lagi sepenuhnya milik sendiri, apa bisa seorang wanita untuk ikhlas?. Membayangkan apa yang selama ini adalah “milik” sendiri sekarang juga menjadi milik orang lain.

Apa bisa seorang laki-laki atau seorang ustadz sekalipun merasakan keperihan yang akan ditimbulkan akibat cinta , kasih sayang dan perhatian yang telah terbagi. Huh, sangat tidak mungkin!!

Seorang suami yang melakukan poligami akan menyebabkan luka pada hati istri yang pertama, sangat bohong sekali jika ada wanita sekarang yang mengaku ikhlas menerima suaminya nikah lagi,
jika bersabar mungkin bisa dilakukan, tetapi untuk ikhlas itu hanya dibibir saja. Terkadang wanita menerima karena terpaksa, mungkin karena kedudukkan sebagai seorang istri ustadz yang masyur, makanya untuk menunjukkan kalau kita adalah wanita sholehah makanya berusaha untuk menerima dipoligami, supaya dianggap hebat. Tapi itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena hebatnya manusia apalagi seorang istri bukan dari melakukan suatu perbuatan yang bisa menyakiti hati/perasaan sendiri.

Keikhlasan dari seorang istri yang dimadu sangat dituntut disini, dan ini tidak bisa dengan kata-kata “Saya akan coba untuk mengikhlaskan”. Karena pernikahan bukan buat coba-coba. Sangat menjijikkan jika ada seseorang melakukan poligami dengan alasan sunnah, sementara untuk sunnah-sunnah yang lain tidak dilakukannya. Jika mau melakukan sunnah Rasulullah secara utuh mengapa tidak benar-benar mengikuti apa-apa yang dilakukan Rasulullah.

Apakah telah berjuang menegakkan agama sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah...? rasanya belum…karena para ustadz sekarang menegakkan agama berbondong-bondong karena dibayar, tanpa bayaran mereka tidak akan mau berdiri ceramah/khotbah. Buktinya para ustadz sekarang layaknya selebritis, punya manager sendiri, jika butuh sang ustadz, telpon manager, dan yang pertama kali ditanya manager adalah “Berapa duit bisa?”.

Apakah Rasulullah pernah mensunnahkan hal yang seperti itu, memberi makan keluarga dengan hasil menjual ayat-ayat Al-Qur’an, Banyak juga yang mengatakan boleh-boleh saja seorang ustadz menerima bayaran, karena ustadz juga manusia yang butuh makan, tapi jika ustadz yang pintar tentu akan menjalankan sunnah , Rasullah dalam berdakwah tidak sekalipun menerima imbalan, kebutuhan hidup beliau dari berdagang.

Bagaimana ustadz?, siap untuk tidak terima bayaran?......mana mungkin??? Apakah Ustadz sekarang ini telah benar-benar berjuang demi agama?, rasanya belum karena kebanyakan mereka lebih cenderung takut dinilai masyarakat daripada penilaian Allah, mereka tidak punya ketegasan dalam berdakwah, contohnya saja, menutup aurat itu hukumnnya wajib bagi wanita muslimah, tapi sang ustadz tidak bisa tegas dalam menerapkan aturan ini, karena tuntutan scenario yang mengharuskan ustadz satu panggung dengan seorang artis yang jelas-jelas tidak menutup aurat, dan ustadz tidak mengalihkan pandangannya untuk menghindari.

Ah…itu mah tergantung pribadi masing-masing, kadang itu yang jadi alasan, sementara Allah saja yang punya makhluk tentu tidak punya nafsu terhadap makhluk malah menyuruh menutup aurat dan menjaga pandangan. Apakah dalam pernikahan sudah benar-benar seperti yang disunnahkan Rasulullah, Istri yang pertama seorang janda, dan baru menikah lagi setelah istri pertama meninggal. Pernikahan-pernikahan Rasulullah merupakan perintah Allah, untuk diambil hikmah yang luar biasa dibalik semuannya, tapi apa sih hikmahnya kalau cuma ustadz yang juga manusia biasa berpoligami, yang ada menyakiti perasaan kaum wanita, pandangan buruk dari non muslim, dan tidak sedikit wanita-wanita muslimah yang lebih memilih laki-laki non muslim untuk dijadikan suami.

Seperti suatu kejadian di sebuah daerah, ada seorang istri yang taat pada agama dan suaminya,
selalu menjaga kehormatan suaminya dengan selalu berada dirumah, mengisi hari-harinya dengan ibadah. Suami yang juga dikenal sebagai seorang ustadz kemudian memutuskan menikah lagi dengan alasan "sunnah". Sang istri dengan kesabarannya menerima, tapi dari hari ke hari istri pertamanya menjadi orang yang pendiam, yang kemudian pada akhirnya meledak, minta dicerai. Dan setelah menjanda setahun lebih, menikah lagi dengan non muslim, dan ikut agama suami barunya, Keluarga telah berjuang untuk menghalangi, namun alasannya cuma satu, "jika di agama islam, istri yang ridho suaminya menikah lagi akan masuk sorga" tapi buat apa mengharap sorga yang belum tau kita dapat sementara selama hidup di dunia terasa di neraka" Mengapa dari sekian banyak sunnah yang patut dperjuangkan dan dijalankan, para ustadz banyak yang lebih memilih sunnah poligami, apa merasa akan dipandang lebih hebat?, apa akan merasa menjadi lebih terhormat?, apa akan dianggap menjadi orang yang dipandang lebih paham agama?......huh sama sekali tidak ada!!...yang ada akan dianggap menyakiti wanita, karena ustadz bukan Rasulullah yang punya perasaan halus, yang tahu apa yang tergores dalam hati istri-istri beliau, dan beliau punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ustadz-ustadz (laki-laki) sekarang, do'a beliau adalah do'a yang pasti di dengar dan dikabulkan oleh Allah, sedikit saja ada tergores sesuatu yang tidak baik dalam hati istri-istri beliau, beliau sudah tahu dan mohonkan ampun atas mereka. Dengan demikian istri-istri beliau selamat dari dosa-dosa bathin,

apa ada laki-laki sekarang dan termasuk ustadz bisa menjamin do'anya dikabulkan……..huh mana ada orang yang bisa menjamin…. Sekarang kita coba tempatkan diri sebagai laki-laki yang berpoligami, coba tanya dalam hati, saya sekarang mau berpoligami melakukan sunnah…dan
- Apakah saya telah benar-benar pantas mengikuti sunnah poligami, sementara sunnah-sunnah yang lain banyak yang tidak dikerjakan -Apakah saya tidak mengikuti hawa nafsu saja, perjuangan untuk agama baru secuil, tapi saya malah menyenangkan diri dengan memenuhi hasrat dengan alasan sunnah.
-Apakah saya tidak menyakiti hati/perasaan istri saya, bagaimana jika saya pada posisi dia, apa tidak akan pedih rasanya?
-Apakah saya akan bisa berlaku adil?, dimana saya akan menghadapi 2 wanita yang berbeda, tentu masing-masing mereka punya kekurangan, apa bisa saya adil dalam perasaan, tidak terbersit sedikitpun dalam hati membandingkan mereka?
-Apa mungkin saya berada dalam hati yang berbeda pada saat bersamaan?
-Apa mungkin saya bisa adil jika harus memilih diantara mereka?
-Saya rasa saya bisa adil, tapi apa istri saya bisa ikhlas menerima, apa hal ini tidak akan menjadikan istri saya menjadi orang yang tidak ikhlas dalam setiap apa yang dilakukannya terhadap saya, apa yang dilakukannya mungkin saja karena persaingan, berharap pujian dari saya, bukan lagi karena berharap ridho Illahi.

Nah ustadz-ustadz yang pintar, tolong dipikirkan, jangan timbang dari kemampuan diri sendiri, tapi timbang juga dari pihak istri. Sekarang kita coba juga tempatkan diri kita sebagai wanita yang di poligami. Tanya dalam hati
-Apakah saya akan benar-benar bisa ikhlas untuk berbagi lahir dan bathin dari suami.
-Apakah saya tidak akan membohongi diri sendiri jika dihadapan publik saya katakan setuju, tapi dalam hati saya menangis
-Apakah adil bagi saya, jika apa yang selama ini milik saya sendiri, sekarang dengan alasan sunnah harus dibagi?
-Apakah benar sorga yang akan saya peroleh, sementara di dunia saja saya telah merasakan neraka Dan uang bayaran bukan cuma buat ustadz tapi juga buat tim dan itu bisa dibuktikan sendiri.
-Apakah karena telah merasa hebat berdakwah, dan terkenal layaknya selebritis hingga merasa diri sudah menjadi pantas berpoligami, menjalankan sunnah Rasulullah SAW.
Seperti dalam hal pernikahan, Rasulullah selama pernikahan Beliau yang pertama tidak melakukan poligami. Mengapa para ustadz yang pintar-pintar ini tidak mengikuti seperti halnya Rasulullah, yang setelah istri pertama meninggal baru menikah lagi dan ini dilakukan bukan dengan gadis-gadis cantik, dan dengan hikmah yang luar biasa teladannya, tapi apa yang dapat diteladani dari ustadz-ustadz yang melakukan poligami sekarang ini,...