Tidak semua pertanyaanmu harus aku jawab

kenapa tidak harus dijawab..? Kenapa seorang guru membiarkan muridnya tidak menemukan jawaban..?.

Cara bertanya kepada Guru Rohani berbeda dengan bertanya kepada Guru Jasmani/Syariat. Guru jasmani/syariat akan menjawab pertanyaan yang dia tahu sedangkan Guru Rohani hanya menjawab pertanyaan ketika ada izin dari Allah, ada “tanda-tanda” yang mengizinkan Guru Rohani untuk menjawabnya. Ketika “tanda-tanda” itu tidak ada maka Guru Rohani tidak menjawabnya walaupun Guru Rohani mengetahui jawabannya.
Memahami akan “tanda-tanda” tersebut merupakan ilmu khusus yang tidak semua orang mendapatkannya.

Seorang murid nantinya akan terbiasa dengan bertanya dalam hati dan biasanya Guru Rohani akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam hati karena Guru Rohani tembus sampai ke lubuk hati sang murid yang paling dalam. Kalau pun murid ingin bertanya, maka sebelum bertanya terlebih dulu beristiqhfar, memohon ampun kepada Allah, agar dalam pertanyaan itu nanti tidak timbul nafsu dan di sertai oleh syetan. Adab atau sopan santun bertanya kepada Guru Rohani di jelaskan dalam Tanwirul Qulub karya Syekh Amin Al-Kurdi.

Seperti Imam Malik yang tidak menjawab semua pertanyaan yang diajukan atau Beliau menjawab dengan “Tidak Tahu” tentu ada alasan tertentu. Bisa jadi pertanyaan itu tentang hakikat Ketuhanan yang kalau beliau jawab lebih besar mudharat dari pada manfaat. Bisa jadi pertanyaan tidak dijawab oleh Imam Malik karena orang yang bertanya sebenarnya belum memerlukan jawaban, harus melewati proses baru nanti dengan sendirinya menemukan jawaban sendiri. Seperti ucapan Imam Ghazali, “…Biarlah nanti engkau akan tahu dengan sendirinya”.

Mungkin juga si penanya bertanya dengan tujuan untuk mengajak berdebat bukan untuk mencari jawaban, lebih bijaksana dijawab dengan “Tidak Tahu” untuk memuaskan si penanya dan menghindari perdebatan yang juga di larang oleh Rasulullah SAW. Imam Malik pernah berkata: “Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hati seorang hamba.”

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Abbas. R.A. “Cukuplah engkau sebagai orang zhalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain dzikir kepada Allah.” (al-Fakihi dalam Akhbar Makkah)

Muslim Ibn Yasar rahimahullah berkata : “Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya syetan menginginkan ketergelincirannya.” (Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404).

Umar bin Abdul Azis berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).” (Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565)

Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata, “Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!” Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata: “Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.”

Orang yang melayani semua jawaban, tanpa merenung, tanpa berfikir tepat sekali apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’I sebagai orang bodoh, yaitu orang yang tidak mengetahui kebodohannya. Orang yang suka berdebat tentang agama juga tergolong orang bodoh, tanpa sadar syetan masuk ke dalam perdebatannya.

Anak-anak-Ku “Jangan kau berdebat dengan orang, tak akan dikira (diperhitungkan sebagai) menang kau nanti”. Walaupun nanti menang dalam perdebatan tapi itu tidak dihitung sebagai kemenangan tapi justru kekalahan karena tanpa sadar kita telah menyakiti hati lawan debat kita