Ulat WC

Sore itu ada dua orang datang ingin menemui Guru Sufi dengan niat belajar, diterima di sekretariat oleh murid yang bertugas disana. Sudah menjadi kebiasaan, kalau orang datang bertamu di luar jadwal yang telah ditentukan, biasanya harus dilapor dulu kepada Guru apakah Guru berkenan menemui atau bisa jadi Guru sedang dalam zikir yang lama sehingga tidak bisa melayani tamu. Setelah ngobrol setengah jam dan tahu maksud kedatangan tamu, kemudian murid datang kerumah Guru yang terletak 50 meter dari ruang sekretariat untuk melaporkan tentang tamu.

Ketika berada dihadapan Guru, sebelum murid melaporkan, Sang Guru tiba-tiba berkata, “Muridku, Tidak bisa dia masuk tarekat, tidak bisa dia menjadi murid Wali Allah karena dulu kakeknya seorang yang senang mencaci Wali Allah”.

Sang murid tertegun lama, berarti gurunya sudah mengetahui sebelum dia melaporkan.

Saya pun merenung dalam-dalam tentang kejadian tersebut, kenapa seorang Wali Allah menolak orang belajar tarekat yang pada hakikatnya adalah bertobat..? Bukankah yang mencaci Wali Allah itu kakeknya, kenapa cucunya harus menjadi korban..?

Banyak pertanyaan muncul dalam pikiran saya, sampai suatu waktu saya menemukan jawabannya dalam kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Ketika Khidir membunuh anak kecil, Nabi Musa tidak bisa menerima tindakan khidir, kenapa harus membunuh anak kecil yang tidak berdosa.

Di akhir pertemuan Khidir menjelaskan kepada Musa, “Anak tersebut adalah anak seorang yang beriman dan taat kepada Allah, kalau aku tidak membunuhnya kelak anak tersebut akan membuat kedua orangtua nya menjadi durhaka kepada Allah”. Pandangan khasyaf ini hanya dimiliki oleh kekasih Allah, melihat jauh sebelum terjadi.

Mencaci ulama menyebabkan anak turunannya terhalang dari rahmat Allah, inilah yang di khawatirkan para ulama, sebagaimana Nasehat Ibnu Hajar Untuk Para Penentang Ulama Sufi.

Bukan hanya ulama, mencaci manusia biasa juga merupakan tindakan yang tercela. Setan berusaha dengan sekuat tenaga agar kita menjadi di murkai, kalau tidak mampu menghalangi kita dalam beribadah, dia menyisipkan sifat sombong dalam hati, memandang rendah kepada orang yang berbeda paham dengannya. Memandang rendah ini terkadang terwujud dalam bentuk caci maki, se olah-olah dia sedang membela agama.

Saya selama hampir 20 tahun mengamati dan meneliti tentang orang-orang yang suka mencaci ulama, terutama ulama tasawuf, juga orang-orang yang suka menjelek-jelekkan ajaran tarekat, pada umumnya adalah orang yang mampunyai error di masa lalu. Error tersebut bisa berupa karena terlalu banyak melakukan maksiat di masa mudanya, atau melakukan tindakan tidak terpuji lainnya, kemudian menutupi dengan cara menyalahkan orang yang berbeda dengannya. Karena mencaci maki ulama itu tanpa sadar membuat hidupnya terpuruk, dihinakan di dunia dan tentu saja akan hina kelak di akhirat.

Guru Sufi dulu menyaring murid di awal belajar, misalnya kalau ada 12 orang ingin berguru, terkadang hanya diterima 1 orang bahkan tidak diterima sama sekali, yang di tolak dikemudian hari datang lagi menemui Guru, sampai dia diterima. Kesungguhan itu yang diperlukan dan Guru bisa melihat dengan mata bathin nya siapa yang benar-benar ikhlas berguru dan siapa yang tidak.

Syekh Abdul Qadir bahkan dengan ekstrim menyuruh calon murid mengemis selama 1 tahun sebagai ujian sebelum diterima menjadi murid. Sunan KaliJaga mendapat ujian menjaga tongkat Gurunya, suatu tindakan yang dilihat dari kacamata umum seperti orang bodoh dan sia-sia, siang malam menjaga tongkat sementara orang lalu lalang melihat dengan pandangan aneh.

Guru saya tidak menyaring murid di awal, semua orang yang ingin berguru diterima Beliau dengan lapang dada, dikemudian hari alam akan menyeleksi siapa yang setia dalam berguru dan siapa yang tidak layak menjadi muridnya, waktu akan membuktikan. Sikap bijaksana ini di ambil Guru agar semua orang bisa merasakan nikmatnya zikir, nikmatnya Iman dan Islam, walau dikemudian hari dia harus tercampak dari rahmat Allah.

Saya dulu pernah bertanya dalam hati, kenapa Guru menerima semua murid tanpa memilih milih, bahkan orang yang pernah tidak senang dengan tarekat pun Beliau terima dengan senang hati. Ada sebagian dari murid Beliau melakukan tindakan diluar apa yang diperintahkan Guru, bahkan membuat Guru susah karenanya. Orang-orang yang menyebabkan masalah ini kenapa harus diterima oleh Guru menjadi murid.

Saya menemukan jawaban ketika suatu hari Guru berkata, “Ambil ulat WC, 3 atau 4 ekor, terserah berapa banyak, cuci bersih bersih, semprot minyak wangi dan letakkan di tempat bagus, ulat itu tetap akan kembali ke WC”. Kemudian Guru berkata, “Tidak usah kau pikirkan orang-orang yang berpaling dari jalan Allah, ibarat ulat WC tersebut, diperlakukan sebaik mungkin dia akan tetap kembali ke habitat aslinya, karena itulah takdirnya, maka berdoa selalu dalam hati agar kita tidak termasuk jenis ulat WC”.